Archive

Archive for the ‘ICT’ Category

Jangan Pakai Linux !!!

December 18th, 2009

Ya! Buat kamu yang belum pernah mencoba menggunakan sistem operasi yang identik dengan logo pinguin ini, ada baiknya untuk tidak mencoba memakainya! Loh? Kenapa? Berikut beberapa alasan untuk tidak menggunakan Linux.

1. Linux itu susah!

Iya itu faktanya. Linux itu susah! Bener-bener susah! Sekali kamu coba memakainya maka akan sulit bagi kamu untuk tidak mengulangi untuk memakainya lagi. Linux bagai candu yang akan membuat pemakainya betah berlama-lama berinteraksi dengannya, dan seringkali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang unik dan menarik.

2. Linux itu mainan para hacker!

Buat yang merasa dirinya bukan hacker, sangat disarankan untuk tidak memakai Linux. Mengapa? Iya, karena Linux akan membuat kamu mandiri.

Hmmm… mandiri?Contohnya?

Di Linux, kamu akan menemukan banyak hal baru dan menarik.Kamu akan terus mencoba dan mencoba. Sedikit demi sedikit ‘hack‘ pada sistem operasi ini akan kamu lakukan.

Hack? Iya, hack! Terdengar keren dan begitu geek, bukan? Semua itu legal untuk dilakukan di Linux, karena source codenya dengan mudah dapat kamu peroleh, kamu modifikasi, ubah sana, ubah sini, dan menyebarkannya ulang dengan bebas pula, selama tidak keluar dari ruang lingkup General Public License.

3. Linux itu merugikan!

Pihak-pihak yang mendukung konsep proprietary software tentulah akan merasa dirugikan. Mengapa? Karena bila semakin banyak pengguna Linux (dan open source) tentu lahan bisnis mereka akan semakin tergerus terus dan terus.

Tapi, tidak hanya kerugian dari segi finansial saja yang akan mereka dapat. Melainkan juga ada banyak keuntungan yang akan mereka peroleh, meskipun tidak mereka rasakan secara langsung. Contohnya? Karena software open source tersedia source codenya dengan bebas, maka pengembang software proprietary pun dapat ‘mengintip’ dan ‘mencomot’ beberapa bagian software yang mereka anggap menarik untuk kemudian diintegrasikan ke dalam software komersial mereka.

Duh, contohnya masih kurang nih! Oke… oke… Kita ambil contoh Sun Microsystems dengan software office suite mereka yang ternama, OpenOffice dan StarOffice. Hmmm… ada apa dengan OpenOffice dan StarOffice? Sungguh menarik melihat fenomena yang terjadi di sini. OpenOffice dibangun berdasarkan source code StarOffice, lisensi yang disematkan ke OpenOffice ini bersifat open source yang dikembangkan secara gotong royong dengan komunitas yang tersebar di seantero benua di muka bumi ini. Dari hasil pengembangan OpenOffice, Sun Microsystems kemudian mengambil beberapa bagian kodenya untuk kemudian diintegrasikan ke StarOffice dengan ditambahkan beberapa ‘hasil keringat’ ‘orang dalam’ Sun Microsystems. Lisensi StarOffice sendiri bersifat proprietary. Sebuah hubungan timbal balik yang unik dan saling menguntungkan, bukan?

4. Linux itu jelek dan tidak menarik
Pernyataan itu tidak salah, namun tidak juga benar. Bila kita melihat Linux secara parsial, yakni hanya kernel/intinya saja tentu pernyataan itu dapat dibenarkan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh ’seonggok’ kernel? Dan meskipun kernel itu bisa dipakai, apa sih yang menarik dari tampilan command line based dengan background hitam dan teks putih saja?

Namun bila kita melihat Linux secara keseluruhan sebagai satu kesatuan sistem operasi yang komplit, dengan desktop environment dan lingkungan kerja berbasis GUI (Graphical User Interface) yang indah, kemungkinan kamu akan membantah pernyataan itu. Kasih contoh dong! Oke, mari kita tilik sejenak desktop GNOME atau KDE (atau yang lainnya) dengan Compiz enabled dan setting animasi desktop yang maksimal, saya yakin kamu akan takjub melihat keindahannya. Tidak percaya? Silakan berkunjung ke YouTube dan masukkan kata kunci pencarian “compiz desktop”, tonton salah satu video demonstrasinya.

5. Linux itu membingungkan
Amat sangat membingungkan! Itulah perasaan yang akan kamu temui saat pertama kali menatap ‘wajah’ Tux si pinguin ini. Bingung mau memakai distribusi Linux apa, bingung mau pakai software yang mana, bingung untuk menginstal aplikasi apa diantara sekian banyak aplikasi, bingung untuk memilih desktop environment (GNOME, KDE, Xfce, dsb), dan banyak kebingungan-kebingungan lain yang mungkin akan kamu jumpai.

Semua itu wajar. Di dunia Linux dan open source, freedom is the will. Saking beragamnya kebebasan yang ditawarkan, maka tidaklah mengherankan bila perkembangan Linux dan software open source pada umumnya dapat dibilang pesat.

Belum lagi ditambah dengan kebingungan mau bertanya kepada siapa bila nantinya kamu menemui kendala yang serius dikarenakan saking banyaknya LUG (Linux User Group) baik yang bertaraf lokal maupun internasional yang siap membantu menyelesaikan masalah yang kamu temui.

6. Linux itu mahal
Benar sekali! Linux itu mahal! Karena kamu ‘kemungkinan’ akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Iya! Semahal satu dua keping CD/DVD blank untuk ‘membakar’ salinan/ISOnya.

Juga untuk membayar koneksi internet (bila ada) atau CD/DVD repository (paket software dalam CD/DVD). Kita ambil contoh DVD repository Ubuntu yang dijual di berbagai toko online, harganya berkisar antara 50.000 s.d 100.000 rupiah! Dudududu… mahal sekali…

Setuju! Mahal sekali biaya yang harus dikeluarkan demi mendapatkan tambahan paket software free dan open source berkualitas yang super lengkap dan super banyak! Coba bandingkan dengan harga satu lisensi sistem operasi proprietary yang harganya berkisar diatas US$ 100 atau harga lisensi untuk satu software proprietary yang harganya bervariasi mulai dari US$ 19.99 hingga ratusan dollar! Ah, jauh sekali perbedaannya. Linux memang mahal.

Ubuntu, melalui program shipitnya menawarkan pengiriman CD Ubuntu gratis ke seluruh penjuru dunia. Namun tidak sepenuhnya gratis! Melainkan mesti membayar ’semacam pajak yang entah terang atau gelap’ ke Kantor Pos, yang biayanya berkisar antara 5000 s.d 7000 rupiah. Mahalnya…

7. Linux itu membodohkan
Maksudnya?

Begini, betapa ‘bodoh’nya ‘orang-orang itu’, sudah capek-capek membuat program eh… kok malah diberikan begitu saja kepada orang lain, berikut source codenya pula! Tanpa meminta imbalan apa-apa! Logis nggak sih?

Melalui tindakan yang ‘bodoh’ itu, para programmer dan mereka yang berkecimpung di dunia open source telah berkontribusi yang tidak sedikit demi kemanusiaan dan perkembangan teknologi informasi untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Melaui ‘kebodohan’ mereka pula, perkembangan software open source akan semakin cepat karena akan ada banyak orang yang turut berpartisipasi dalam mencari bugs yang mungkin ada untuk kemudian diperbaiki dan dioptimasi serta ditingkatkan fitur-fiturnya.

8. Linux itu berdosa
Ya, ‘berdosa’ kepada pengembang software proprietary karena tidak memberikan ‘pemasukan’ ke ‘kantong’ mereka dikarenakan software proprietary buatannya mendapatkan saingan dari software open source yang lebih murah, halal, dan legal dengan fitur yang tidak kalah (bahkan melebihi fitur-fitur yang ada pada software proprietary tersebut).

9. Linux itu menyedihkan
Sangat menyedihkan malah, bagaimana mungkin sistem operasi dengan usia yang relatif muda ini mampu berkembang pesat seperti sekarang ini, bahkan berani menghadapi sistem operasi proprietary yang telah dikembangkan jauh sebelumnya dan memiliki pangsa pasar yang tidak sedikit di seluruh dunia.

Bila dulu, banyak pihak yang meramalkan IBM OS/2 adalah sistem operasi masa depan, namun kenyataannya sekarang sungguh berbeda, OS/2 telah ‘down’ (bila tidak ingin dikatakan ‘mati’). Mari kita lihat bagaimana perkembangan Linux beserta software-software open source lainnya beberapa tahun kedepan.

Yup, diatas adalah beberapa alasan yang cukup logis untuk tidak memakai Linux. Sekarang terserah kepada kamu, masih mau memakai Linux?

Catatan:
* Tulisan diatas hanyalah sebuah pemikiran bodoh dari penulis yang hanya seorang lamer yang tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan di hati para pembaca dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.


ICT

Membuat Jaringan Tanpa Harddisk (Diskless) Pada openSUSE..

March 3rd, 2009

ZoundryDocument

Kemarin abiz dapat tugas kuliah mengenai membuat jaringan tanpa Harddisk (diskless) bisa juga disebut dengan Thin-Client.. Dalam pembuatan jaringan ini kebetulan memilih distro openSUSE versi 10.3 alasan knp memilih openSUSE karena untuk bagi user yg masih newbie didunia linux sangat mudah dalam melakukan konfigurasi dan setting jaringannya..

Dalam membuat jaringan ini saya menggunakan LTSP (Linux Terminal Server Project) versi 4.2 yang file .ISO nya dapat di download pada link http://ltsp.mirrors.tds.net/pub/ltsp/isos/

Ada beberapa paket aplikasi yg harus di install terlebih dahulu sebelum menginstall LTSP tersebut di openSUSE yaitu

  • dhcp-tools
  • dhcp-server
  • nfs-kernel-server
  • tftp
  • yast-dhcp-server
  • yast-tftp-server
  • yast-nfs-server

Cara menginstal LTSP yang telah di download

  • Copy file ltsp.iso yang telah di download ke /media
  • buat folder isomount $mkdir /media/isomount
  • buat mount ltsp.iso ke folder isomount $mount -o loop /media/ltsp.iso /media/isomount
  • buka folder ltsp-utils $cd media/isomount/ltsp-utils
  • install ltsp-utils $rpm -ivh ./ltsp-utils-0.25-0.noarch.rpm
  • buka ltspadmin $ltspadmin
  • Pilih menu “configure the installer options”
  • Pada bagian “Where to retrieve packages from?” ketikkan file:///media/isomount
  • selanjutnya pilih yes pada setiap option
  • Pada pilihan instalasi paket LTSP pilih “A” untuk menginstal semua paket LTSP tersebut

Selanjutnya yang harus dilakukan adalah configurasi pada “YAST” openSUSE yaitu :

  • Buka Yast>System>/etc/sysconfig editor>DHCP>DHCP server>DHCP_INTERFACE pada bagian ini tulis interface dhcp yg akan digunakan misalnya “eth0″
  • Buka Yast>Network Service>TFTP Server,pada bagian ini pilih “enable”
  • Buka Yast>Network Service>Xinetd pilih “enable” dan pada service tftp di “ON” kan
  • Buka Yast>System>/etc/sysconfig editor>desktop>display manager>pada bagian ini setting DISPLAYMANAGER_REMOTE_ACCESS menjadi “YES”dan DISPLAYMANAGER_XSERVER_TCP_PORT_6000_OPEN menjadi “ON”

Selanjutnya masuk kembali ke LTSPADMIN dan lakukan configurasi LTSP dengan memilih “configure LTSP” lalu pilih “C” untuk memulai konfigurasi secara manual

Dalam melakukan konfigurasi yang paling penting adalah konfigurasi DHCP servernya pada dhcpd.conf,salah satu contoh konfigurasi pada dhcpd.conf adalah :

default-lease-time 3600;
max-lease-time 7200;
ddns-update-style none;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option broadcast-address 192.168.0.255;
option routers (Your Default Gateway);
option root-path "192.168.0.254:/opt/ltsp/i386";
option option-128 code 128 = string;
option option-129 code 129 = text;
next-server 192.168.0.254;
option host-name = concat
shared-network WORKSTATIONS {
    subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {
    range dynamic-bootp 192.168.0.200 192.168.0.250;
    use-host-decl-names       on;
    option log-servers        192.168.0.254;

         if substring (option vendor-class-identifier, 0, 9) = "PXEClient"
     {
        filename      "lts/2.6.17.3-ltsp-1/pxelinux.0";
          # NOTE: kernels are specified in tpboot/lts/pxe/pxelinux.cfg/
     }
     else
     {
        filename    "lts/vmlinuz-2.6.17.3-ltsp-1";
     }

    }
}

Apabila sudah melakukan konfigurasi LTSP dan dhcpd.conf dengan benar jalan perintah pada root di terminal $service dhcpd start dan $service nfs start

Dalam membuat model jaringan seperti ini yang tidak kalah penting diperhatikan adalah merek dan tipe dari Ethernet Card yang terdapat pada Client,hanya merek dan tipe2 tertentu yg dapat digunakan untuk membuat jaringan tanpa hardirk dengan LTSP,serta ada baiknya bila Ethernet Card tersebut sudah mendukung untuk melalukan PXE boot-room. Bila Ethernet Card tersebut tidak dilengkapi dengan PXE Boot maka kita harus menggunakan Disk Boot yang penjelasannya dapat dilihat di web www.rom-o-matic.net

Sekian dulu semoga pembahasan kali ini dapat bermanfaat..

:-)

ICT

membuat live USB dengan windows XP

February 14th, 2009

Sesuai dengan janji di postingan terdahulu mengenai live USB,kali ini sy akan membahas gmn membuat live USB dengan windows XP yg pastinya caranya lebih gampang n mudah dibanding cara sebelumnya dengan menggunakan script pada linux Ubuntu..

Yang pertama perlu disiapkan tentu saja sebuah file linux .ISO dalam hal ini sy menggunakan file .ISO kubuntu dan sebuah software untuk membuat live USB tersebut yang namanya Unetbootin,gmn cara mendapatkan/mendownload software tersebut yah tentu saja kita bisa menanyakannya pada om Google.. hehehehe.. yg perlu diperhatikan disini pastikan anda mendownload Unetbootin untuk windows..Serta jangan lupa sebuah USB flashdisk donk yg berukuran minimal 1 GB yang telah di format FAT32

Setelah di download,jalankan Unetbootin cukup dengan mengklik 2 kali file software tersebut.. kita tidak perlu menginstall software tersebut di PC krn dpt langsung di eksekusi tanpa instalasi.. tampilan software tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini

unetbootin

Setelah pada gambar diatas terdapat pilihan tipe instalasi,krn disini kita menggunakan file .ISO maka yang di pilih ada disk image dan masukkan lokasi penyimpanan file .ISO yg telah disiapkan.. jangan lupa salah memilih type hardware yg akan digunakan untuk instalasi.. dalam hal ini tentu saja USB drive.. contohnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini..

unetbootin2

Setelah semuanya langkah diatas dilakukan dan dipastikan semuanya benar klik OK untuk memulai instalasi.. Tunggu beberapa saat dan live USB anda telah siap digunakan..

unetbootin4

Restart PC/notebook anda dan lakukan booting ke USB flahdisk untuk mengetes live USB yg telah anda buat..

:-)

ICT

Membuat Live USB dengan Ubuntu 8.10..

February 11th, 2009

Salah solusi yg tepat bagi pengguna linux yg ingin menggunakan linux dmn aja n kapan aja yg penting ada PC ato Notebook tanpa perlu menginstall ato bawa live CD.. klo ngga ada???yah mikir aja sendiri.. Hehehehe

Langsung ke pembahasan yg diatas aja yah biar ngga usah panjang lebar basabasinya.. Cara yg digunakan kali ini menggunakan script, sy sendiri udah berhasil mencobanya membuat live USB Kubuntu ma Xubuntu.. so lets check it out..

  • Pertama tentu saja anda harus menyiapkan sebuah file .ISO linux dan sebuah flashdisk minimal berukuran 1 GB
  • Pastikan Ubuntu anda sudah terinstall paket Partition Editor,klo belom yah install dulu melalui Add/Remove Applications
  • Download script yg akan digunakan yaitu isotostick.sh melalui terminal dengan perintah $ wget http://zelut.org/projects/misc/isotostick.sh
  • Setelah script selesai di download ubah permission script tersebut dengan perintah $ chmod u+x isotostick.sh
  • Masukkan USB flashdisk lalu buka aplikasi Partition Editor untuk memformat USB flashdisk ke FAT32 dan pastikan anda mengingat nama device flashdisk tersebut (/dev/sdX1)
  • Setelah USB flashdisk diformat pilih partisi dr USB flashdisk tersebut lalu pilih Manage Flag lalu pilih check boot setelah itu tutup aplikasi Partition Editor tersebut
  • Jalankan script yg td di download di terminal dengan perintah $ sudo ./isotostick.sh /lokasifile.iso /dev/sdX1
  • Tunggu sampe selesai dan muncul tulisan “USB stick set up as live image!”
  • Restart PC/Notebook anda lalu pilih booting USB Flashdisk anda untuk mencoba apakah anda sudah berhasil membuat USB Live

Caranya gampangkan??ngga susah2 amat.. Tp klo misalnya masih belom berhasil juga.. di postingan berikutnya sy tulis gmn caranya membuat Live USB linux menggunakan Windows XP jd pastinya lebih mudah n gampang lagi.. Hehehehehehe

ICT