Dapat tulisan menarik neh.. lumayan buat di posting coz udah lama ga update Blog gara2 sibuk kerja n kuliah.. hampir 2 bulan kyknya negh blog di cuekin.. hehehehe.. tulisannya mengenai KCB yg katanya seh klo beli tiket ni hari nanti besok br bs di nonton.. maklum neh cuma tinggal di kota kecil jd ga da TO so hanya bs dengar temen cerita aja.. hehehe..
Ini neh tulisannya..
Bila kekecewaan bisa menjadi nilai jual, maka film ini berangkat dari semangat itu. Film ini menjual kekecewaan Habiburrahman El-Shirazy atas versi layar lebar novel pertamanya, “Ayat-ayat Cinta”, sekaligus tentu saja kekecewaan sebagian penontonnya. Saking ngototnya film ini untuk menjadi “pengobat” atas kekecewaan itu, sampai terjatuh ke dalam sikap kepanikan yang luar biasa menggelikan. Stempel “Dijamin Mesir Asli” di posternya membuat kita tak habis pikir: ini jualan film apa korma sih?
Bukan hanya posternya, film ini juga dibuka dengan menggelikan: Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin berperan sebagai dirinya sendiri, muncul dalam adegan pertemuan para mahasiswa Indonesia di Mesir yang diadakan di KBRI. Alice Norin sebagai Eliana, anak Duta Besar Indonesia untuk Mesir (diperankan Slamet Rahadjo) menyapa, dan Pak Din menjawab, “Saya lagi mampir dari pertemuan di Roma.” Mudah ditebak, adegan yang tidak berguna ini semata-mata dimaksudkan untuk menarik massa Muhammadiyah berbondong-bondong menonton film ini. Secara ya, bok, ketua umumnya jadi cameo! Tentu ini kemajuan dalam karier Pak Din di dunia film, setelah dalam “Ayat-ayat Cinta” tempo hari hanya “berperan” sebagai peng-endorse.
Film ini terbilang panjang, antara lain karena banyaknya adegan-adegan yang sebenarnya bisa dihilangkan, atau pun dialog yang berpanjang-panjang. Dan, karena ini merupakan bagian pertama dari dua seri, maka durasi yang panjang itu jadi terasa semakin panjang karena minim konflik. Ibaratnya, ini baru pemanasan. Saya tidak tahu, apakah lazim membuat film layar lebar berseri seperti ini. Yang jelas, di akhir film, penonton dikejutkan dengan tulisan “to be continued”, kemudian tertawa-tawa menyaksikan cuplikan-cuplikan adegan untuk “Ketika Cinta Bertasbih 2″. Jadi kayak nonton sinetron….
Cita rasa sinetron memang sudah tercium dari awal, ketika tokoh utama kita, pahlawan kita, Azzam (diperankan M. Kholidi Asadi Alam) bertemu dengan kawan lamanya, Furqan (Andi Arsyil) di acara makan bersama Pak Dubes. Ketika Azzam berpelukan dengan Furqan, lalu ngobrol kangen-kangenan, tampak sekali bahwa gambar mereka “di-crop” dengan latar belakang warna biru, sangat wagu, mengingatkan kita pada teknik efek komputer dalam film-film laga ber-dubbing andalan Indosiar. Pertanyaannya: ngapain dong jauh-jauh ke Mesir kalau masih ada adegan “blue screen” seperti itu? Adegan sinetron lainnya muncul ketika salah satu adik Azzam bercerita bahwa dia sangat rindu pada kakaknya itu, dan mendadak menangis tersedu-sedu. Sumpah, itu lebay seada-adanya! Tunggu juga saat ketika Azzam pulang ke Indonesia bareng Eliana, dan di bandara, karena Eliana ini konon pemain sinetron gitu di Tanah Air, maka para wartawan menyerbu dan mewawancarainya. Tanya sama kakak cewek atau nyokap, dalam hampir semua sinetron yang sedang tayang di TV saat ini, pasti ada adegan seperti itu.
Pada akhirnya, kengototan film ini untuk bersetia pada novelnya, ditambah dengan nafsu tak terkendalinya untuk menyaingi “Ayat-ayat Cinta” justru menjadi bumerang. Film ini jadi terasa datar, tanpa emosi, karena memaksakan adegan-adegan yang sebenarnya tidak berkontribusi terhadap keutuhan cerita. Misalnya, adegan ketika polisi Mesir menggeledah rumah kontrakan Azzam untuk mencari penjahat. Bagaimana pun, buku dan film merupakan media yang berbeda. Jika atas nama kekecewaan atas “Ayat-ayat Cinta” tempo hari, yang konon “menyeleweng” jauh dari bukunya, kemudian film ini dibikin sedemikian rupa agar sama persis dengan bukunya –lengkap dengan dialog-dialognya yang panjang– maka inilah hasilnya: bagi saya, film ini justru lebih mengecewakan ketimbang “Ayat-ayat Cinta”.
Dari segi cerita, pada dasarnya “Ketika Cinta Bertasbih” hanyalah pengulangan dari “Ayat-ayat Cinta”. Di sini, kita kembali bertemu dengan fantasi pria muslim atas jodoh-nya. Di satu sisi ada perempuan sekuler yang telah berganti-ganti pacar, di sisi lain, ada perempuan solehah yang bahkan belum pernah dia lihat wajahnya, namun begitu ia impikan untuk menjadi calon istrinya. Ketika berhadapan dengan Eliana, Azzam membayangkan perempuan itu mengenakan jilbab. Sementara, di pihak lain, dia ngotot ingin melamar perempuan bernama Anna Althafunnisa (Oki Setiana) hanya karena mendengar cerita tentang mahasiswi S-2 itu dari sopir Pak Dubes. Ternyata, oh ternyata, Anna sudah di-kitbah (dilamar) oleh sahabatnya sendiri, Furqan.
Dari awal kemunculannya, saya menduga Furqan ini akan menjadi tokoh antagonis. Dia anak orang kaya yang tinggal di apartemen mewah, dan S-2 pula. Sementara Azzam S-1 aja nggak lulus-lulus, karena sambil kuliah dari harus berjualan tempe. Saya kira, Azzam akan bersaing secara “jantan” dengan Furqan dalam memperebutkan Anna. Tapi, ternyata, pembuat cerita ini mengambil jalan pintas dengan menimpakan bencana pada Furqan. Ketika ia “ngungsi” ke hotel agar bisa berkonsentrasi mempersiapkan ujian tesisnya, dia malah mendapat musibah, difitnah cewek Italia dengan motif pemerasan. Ini tidak adil bagi penonton, juga bagi Furqan sendiri mengingat dia adalah pria baik-baik, seperti halnya Azzam. Di film ini, tak ada orang jahat. Teman Azzam yang lain, bernama Fadil, tidak berbuat apa-apa ketika cewek yang dicintainya tiba-tiba dilamar orang lain. Sambil menangis, Fadil merelakan dengan alasan, orang itu lebih pantas buat ceweknya. Semua orang dalam film ini berhati malaikat, sehingga nyaris tak punya jiwa, tidak “hidup”. Dan, konflik yang mereka hadapi hanyalah seputar urusan mencari jodoh. Kepada kawannya yang lain lagi, yang sedang kasmaran, Azzam memberi saran, “Makanya buruan dilamar, agar kamu tenang.”
Film ini adalah sebuah drama yang super-manis untuk orang-orang yang beriman. Segalanya begitu indah, tapi justru di situlah masalahnya. Bagaimana memberi konflik pada manusia-manusia yang sempurna ini? Furqan yang kaya tapi alim itu, akhirnya terinfensi HIV bukan karena dia berzina, melainkan karena disuntik virus itu oleh perempuan jahat yang konon anggota sindikat internasional. Selebihnya, semua baik-baik saja. Azzam akhirnya lulus setelah 9 tahun, Eliana pulang ke Jakarta untuk syuting sinetron barunya, dan berjanji akan mampir ke rumah Azzam di Kartasura. (”Kalau bisa datanglah dengan berbusana muslimah,” pesan Azzam). Namun, sebelum Eliana mewujudkan rencananya, Anna sudah lebih dulu datang ke rumah Azzam, sebelum Azzam sendiri pulang. Anna berteman dengan salah satu adik perempuan Azzam yang baru saja meluncurkan buku kumpulan cerpen. Dari sini kita sudah bisa menebak, bagaimana nanti Azzam dipertemukan dengan Ana, yang ternyata bertetangga-desa di Kartasura. Betapa indahnya hidup ini.
Sutradara Chaerul Umam menyia-nyiakan “Mesir asli”. Panorama Mesir terhampar dalam gambar-gambar yang kabur, sebagai background untuk creddit tittle di bagian awal. Penonton yang menduga akan dimanjakan dengan gambar-gambar indah nan eksotik dan ekslusif, terpaksa menelan ludah. Akting pemainnya banyak yang kaku, dan pemeran Anna itu, dengan sepasang pipinya yang chubby tak punya ekspresi lain kecuali tersenyum sepanjang film, dalam situasi apapun. Iklan Bank Syariah Mandiri muncul sampai tiga kali, vulgar dan bikin kita menjerit. Sementara iklan Yamaha Mio muncul lewat surat-menyurat antara Azzam dan adiknya di kampung. Dan, kalau antum jeli, silakan nanti dicari, di bagian mana ada iklan Vivanews dan kecap Korma. Subhanallah….
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Jadi ingat waktu nonton film ayat ayat cinta yg waktu itu dengar org cerita klo banyak yg nangis waktu nonton tu film.. jujur sy sendiri pas nonton bareng temen malah ketawa2 aja.. adegannya sinetron abizz !! pokoknya ga banget deh ni film.. heran aja kok bisa2nya film kyk gtu buat org nangis.. Klo menurut pemikiranku seh knp banyak org melihat film seperti Ayat Ayat Cinta tuh bagus krn kebanyakan dr mereka pasti penggemar sinetron yg sama sekali ga mendidik.. parahhh… !! Kpn yah kira2 bangsa ini bs lebih dewasa n cerdas untuk memilih tontonan yg mendidik n lebih menarik…
Peace..
klo pembahasan ma isi tulisan ga nyambung mohon di maafkan.. hehehehe..
source : http://www.facebook.com/ext/share.php?sid=109088331634&h=tYhNH&u=EwfYN&ref=nf