Jika Dunia Adalah Sebuah Desa Yang Dihuni Oleh 100 Orang

May 18th, 2010

Pernah bayangin gag bumi kita ini sebagai sebuah desa yang cuma dihuni oleh 100 orang aja?? nah, jika memakai rasio yang sama dengan dunia kita sekarang, maka kira2 seperti ini nih desa kecilnya….

Akan ada:

57 orang Asia
21 orang Eropa
14 orang dari belahan bumi sebelah barat (termasuk utara dan selatan)
8 orang Afrika

52 orang perempuan
48 orang laki2

70 orang berkulit non-putih
30 orang kulit putih

70 orang non-kristen
30 orang pemeluk kristiani

89 orang dengan orientasi sex heterosexual
11 orang homosexual a.k.a gay

6 orang akan menguasai 59% kekayaan bumi ini
dan semuanya berasal dari…… guess where???? yap. Amerika Serikat.

80 orang tinggal dalam keadaan miskin

70 orang blum bisa baca

50 orang kekurangan nutrisi

1 orang lagi berjuang dalam keadaan koma; 1 orang dalam proses untuk dilahirkan

1 (yep, cuma 1 gan!!) orang punya gelar sarjana alias S1!

dan,, cuma 1 orang punya komputer

jadiii,,,,,,

jika juragan2 sekalian bangun pagi ini dalam keadaan sehat walafiat…. maka juragan2 lebih diberkahi dari sejuta orang yang mungkin gag bisa survive sampe akhir minggu ini…

jika juragan2 sekalian gag pernah mengalami pengalaman pahit dalam medan perang, merasakan kesepian di penjara, kesakitan karena disiksa, ato kelaparan,,, maka juragan2 lebih beruntung daripada 500 juta penduduk dunia yang mengalaminya…

jika juragan2 bisa menjalankan ibadah (apapun itu) tanpa rasa takut akan ditangkap, disiksa, atau dipermalukan,,, maka juragan2 jauh lebih beruntung daripada 3 juta orang yang berjuang hanya untuk pergi ke tempat peribadatan…

jika juragan2 masih punya makanan di kulkas, pake baju, punya atap untuk bernaung dan tempat buat tidur,,, maka sebenarnya juragan2 tu lebih kaya daripada 75% penduduk dunia yang masih hidup dibawah garis kemiskinan….

apalagi jika juragan2 bisa nabung uang di bank, simpan uang di dompet, dan punya recehan di dasbor mobil,,, maka juragan2 sekalian adalah bagian dari 8% kekayaan di dunia….

nah,, jika nengok disekeliling juragan2 dan melihat bahwa ortu2 klian masih hidup dan menikmati indahnya dunia dengan keluarga yang utuh dan tidak tercerai-berai,,, maka kalian sungguh2 langka dan diberkati…

akhirnya,,, jika juragan bisa baca thread saya ini,,, maka juragan2 lebih terberkati daripada 2 juta penduduk dunia yang masih blum bisa baca..

Umum

SMK Telkom Raih Nilai UN Terbaik

May 12th, 2010

Betapa membanggakan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Makasar berhasil mempertahankan prestasinya dua tahun berturut-turut untuk tahun ajaran 2009 dan 2010  sebagai peringkat 1 di tingkat kota Makasar serta untuk tingkat Propinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan SMK Telkom Jakarta berhasil meraih prestasi sebagai peringkat 1 untuk tingkat Kota Jakarta Barat (dari 110 SMK) dan peringkat 3 untuk tingkat Propinsi dari 557 SMK yang ada di Propinsi DKI Jaya.

Demikian pula SMK Telkom Malang meraih peringkat 1 se-Kota Malang dan peringkat 10 untuk tingkat Propinsi Jawa Timur. Dengan demikian untuk kelompok SMK Telkom Sandhy Putra yang berhasil mendapatkan prestasi kelulusan 100%  dicapai oleh SMK Telkom Makasar, SMK Telkom Jakarta, SMK Telkom Malang. Untuk tahun 2010 nilai UN tertinggi khususnya mata pelajaran Matematika mendapatkan nilai/angka 10 (sepuluh) yang diraih oleh sebagian siswa di masing-masing SMK Telkom se Indonesia.

Sebanyak enam SMK Telkom dibawah naungan Yayasan Sandhykara Putra Telkom (YSPT) yang berada di kota Medan, Jakarta, Purwokerto, Malang, Banjarbaru dan Makasar yang diketuai oleh M. Ade Sulchi telah mengukir beberapa prestasi diantara sekolah menengah kejuruan secara nasional. SMK Telkom Purwokerto merupakan salah satu sekolah swasta yang terpilih menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di propinsi Jawa Tengah yang berlangsung sejak tahun 2007/2008 sedangkan SMK Telkom Medan mulai ditetapkan menjadi sekolah RSBI pada bulan Mei 2010 oleh Dinas Pendidikan Propinsi Sumatra Utara.

Kelulusan siswa kelas 3 tingkat Sekolah Menengah Kejuruan telah diumumkan pada tanggal 26 April 2010, berdasarkan nilai Uji Kompetensi Kejuruan Praktek, Ujian Nasional (UN), dan nilai Ujian Akhir Sekolah baik teori maupun praktek.

Untuk SMK Telkom lainnya belum mencapai 100%  kelulusan karena beberapa siswa di salah satu mata pelajarannya tidak lulus ujian nasionalnya,  sehingga harus mengikuti remedial, yaitu 3 orang di SMK Telkom Purwokerto, 6 orang di SMK Telkom Banjarbaru dan 4 orang di SMK Telkom Medan. Namun demikian walaupun terdapat beberapa siswa yang harus mengikuti ujian ulangan, nilai-nilai terbaik UN untuk tingkat Kota tetap diraih oleh siswa-siswi SMK Telkom Banjarbaru untuk tingkat Kota Banjarbaru, SMK Telkom Purwokerto di tingkat Kabupaten Banyumas dan SMK Telkom Medan menjadi peringkat I kelulusan UN  dari 167 SMK di Kota Medan.

Untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama, kelulusan 100% pun berhasil diraih oleh SMP Sandhy Putra Bandung yang baru saja diumumkan 7 Mei 2010 lalu.

Umum

Perception

May 10th, 2010

*THE SITUATION*

In Washington , DC , at a Metro Station, on a cold January morning in 2007,
this man with a violin played six Bach pieces for about 45 minutes. During
that time, approximately 2,000 people went through the station, most of them
on their way to work. After about 3 minutes, a middle-aged man noticed that
there was a musician playing. He slowed his pace and stopped for a few
seconds, and then he hurried on to meet his schedule.

*About 4 minutes later:**

The violinist received his first dollar. A woman threw money in the hat
and, without stopping, continued to walk.

*At 6 minutes:*

A young man leaned against the wall to listen to him, then looked at his
watch and started to walk again.

*At 10 minutes:*

A 3-year old boy stopped, but his mother tugged him along hurriedly. The
kid stopped to look at the violinist again, but the mother pushed hard and
the child continued to walk, turning his head the whole time. This action
was repeated by several other children, but every parent - without exception
- forced their children to move on quickly.

*At 45 minutes:*

The musician played continuously. Only 6 people stopped and listened for a
short while. About 20 gave money but continued to walk at their normal
pace. The man collected a total of $32.

* After 1 hour:*

He finished playing and silence took over. No one noticed and no one
applauded. There was no recognition at all.

No one knew this, but the violinist was *Joshua Bell*, one of the greatest
musicians in the world. He played one of the most intricate pieces ever
written, with a violin worth $3.5 million dollars. Two days before, Joshua
Bell sold-out a theater in Boston where the seats averaged $100 each to sit
and listen to him play the same music.

This is a true story. Joshua Bell, playing incognito in the D.C. Metro
Station, was organized by the Washington Post as part of a social experiment
about *perception, taste and people’s priorities*.

*This experiment raised several questions:*

**In a common-place environment, at an inappropriate hour, do we perceive beauty?

**If so, do we stop to appreciate it?

**Do we recognize talent in an unexpected context?

*One possible conclusion reached from this experiment could be this:*
If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world,
playing some of the finest music ever written, with one of the most beautiful
instruments ever made . . . then
*How many other things are we missing as we rush through life?*

Umum

Siapakah manusia terjenius di dunia?

May 6th, 2010

Siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan orang? Ketiganya memang dianggap jenus-jenius besar yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada William James Sidis. Siapakah ia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQnya mencapai kisaran 250–-300?

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar : menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika. Lebih dasyat lagi : Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!!

Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun - sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis.

Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Umum

Jangan Pakai Linux !!!

December 18th, 2009

Ya! Buat kamu yang belum pernah mencoba menggunakan sistem operasi yang identik dengan logo pinguin ini, ada baiknya untuk tidak mencoba memakainya! Loh? Kenapa? Berikut beberapa alasan untuk tidak menggunakan Linux.

1. Linux itu susah!

Iya itu faktanya. Linux itu susah! Bener-bener susah! Sekali kamu coba memakainya maka akan sulit bagi kamu untuk tidak mengulangi untuk memakainya lagi. Linux bagai candu yang akan membuat pemakainya betah berlama-lama berinteraksi dengannya, dan seringkali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang unik dan menarik.

2. Linux itu mainan para hacker!

Buat yang merasa dirinya bukan hacker, sangat disarankan untuk tidak memakai Linux. Mengapa? Iya, karena Linux akan membuat kamu mandiri.

Hmmm… mandiri?Contohnya?

Di Linux, kamu akan menemukan banyak hal baru dan menarik.Kamu akan terus mencoba dan mencoba. Sedikit demi sedikit ‘hack‘ pada sistem operasi ini akan kamu lakukan.

Hack? Iya, hack! Terdengar keren dan begitu geek, bukan? Semua itu legal untuk dilakukan di Linux, karena source codenya dengan mudah dapat kamu peroleh, kamu modifikasi, ubah sana, ubah sini, dan menyebarkannya ulang dengan bebas pula, selama tidak keluar dari ruang lingkup General Public License.

3. Linux itu merugikan!

Pihak-pihak yang mendukung konsep proprietary software tentulah akan merasa dirugikan. Mengapa? Karena bila semakin banyak pengguna Linux (dan open source) tentu lahan bisnis mereka akan semakin tergerus terus dan terus.

Tapi, tidak hanya kerugian dari segi finansial saja yang akan mereka dapat. Melainkan juga ada banyak keuntungan yang akan mereka peroleh, meskipun tidak mereka rasakan secara langsung. Contohnya? Karena software open source tersedia source codenya dengan bebas, maka pengembang software proprietary pun dapat ‘mengintip’ dan ‘mencomot’ beberapa bagian software yang mereka anggap menarik untuk kemudian diintegrasikan ke dalam software komersial mereka.

Duh, contohnya masih kurang nih! Oke… oke… Kita ambil contoh Sun Microsystems dengan software office suite mereka yang ternama, OpenOffice dan StarOffice. Hmmm… ada apa dengan OpenOffice dan StarOffice? Sungguh menarik melihat fenomena yang terjadi di sini. OpenOffice dibangun berdasarkan source code StarOffice, lisensi yang disematkan ke OpenOffice ini bersifat open source yang dikembangkan secara gotong royong dengan komunitas yang tersebar di seantero benua di muka bumi ini. Dari hasil pengembangan OpenOffice, Sun Microsystems kemudian mengambil beberapa bagian kodenya untuk kemudian diintegrasikan ke StarOffice dengan ditambahkan beberapa ‘hasil keringat’ ‘orang dalam’ Sun Microsystems. Lisensi StarOffice sendiri bersifat proprietary. Sebuah hubungan timbal balik yang unik dan saling menguntungkan, bukan?

4. Linux itu jelek dan tidak menarik
Pernyataan itu tidak salah, namun tidak juga benar. Bila kita melihat Linux secara parsial, yakni hanya kernel/intinya saja tentu pernyataan itu dapat dibenarkan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh ’seonggok’ kernel? Dan meskipun kernel itu bisa dipakai, apa sih yang menarik dari tampilan command line based dengan background hitam dan teks putih saja?

Namun bila kita melihat Linux secara keseluruhan sebagai satu kesatuan sistem operasi yang komplit, dengan desktop environment dan lingkungan kerja berbasis GUI (Graphical User Interface) yang indah, kemungkinan kamu akan membantah pernyataan itu. Kasih contoh dong! Oke, mari kita tilik sejenak desktop GNOME atau KDE (atau yang lainnya) dengan Compiz enabled dan setting animasi desktop yang maksimal, saya yakin kamu akan takjub melihat keindahannya. Tidak percaya? Silakan berkunjung ke YouTube dan masukkan kata kunci pencarian “compiz desktop”, tonton salah satu video demonstrasinya.

5. Linux itu membingungkan
Amat sangat membingungkan! Itulah perasaan yang akan kamu temui saat pertama kali menatap ‘wajah’ Tux si pinguin ini. Bingung mau memakai distribusi Linux apa, bingung mau pakai software yang mana, bingung untuk menginstal aplikasi apa diantara sekian banyak aplikasi, bingung untuk memilih desktop environment (GNOME, KDE, Xfce, dsb), dan banyak kebingungan-kebingungan lain yang mungkin akan kamu jumpai.

Semua itu wajar. Di dunia Linux dan open source, freedom is the will. Saking beragamnya kebebasan yang ditawarkan, maka tidaklah mengherankan bila perkembangan Linux dan software open source pada umumnya dapat dibilang pesat.

Belum lagi ditambah dengan kebingungan mau bertanya kepada siapa bila nantinya kamu menemui kendala yang serius dikarenakan saking banyaknya LUG (Linux User Group) baik yang bertaraf lokal maupun internasional yang siap membantu menyelesaikan masalah yang kamu temui.

6. Linux itu mahal
Benar sekali! Linux itu mahal! Karena kamu ‘kemungkinan’ akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Iya! Semahal satu dua keping CD/DVD blank untuk ‘membakar’ salinan/ISOnya.

Juga untuk membayar koneksi internet (bila ada) atau CD/DVD repository (paket software dalam CD/DVD). Kita ambil contoh DVD repository Ubuntu yang dijual di berbagai toko online, harganya berkisar antara 50.000 s.d 100.000 rupiah! Dudududu… mahal sekali…

Setuju! Mahal sekali biaya yang harus dikeluarkan demi mendapatkan tambahan paket software free dan open source berkualitas yang super lengkap dan super banyak! Coba bandingkan dengan harga satu lisensi sistem operasi proprietary yang harganya berkisar diatas US$ 100 atau harga lisensi untuk satu software proprietary yang harganya bervariasi mulai dari US$ 19.99 hingga ratusan dollar! Ah, jauh sekali perbedaannya. Linux memang mahal.

Ubuntu, melalui program shipitnya menawarkan pengiriman CD Ubuntu gratis ke seluruh penjuru dunia. Namun tidak sepenuhnya gratis! Melainkan mesti membayar ’semacam pajak yang entah terang atau gelap’ ke Kantor Pos, yang biayanya berkisar antara 5000 s.d 7000 rupiah. Mahalnya…

7. Linux itu membodohkan
Maksudnya?

Begini, betapa ‘bodoh’nya ‘orang-orang itu’, sudah capek-capek membuat program eh… kok malah diberikan begitu saja kepada orang lain, berikut source codenya pula! Tanpa meminta imbalan apa-apa! Logis nggak sih?

Melalui tindakan yang ‘bodoh’ itu, para programmer dan mereka yang berkecimpung di dunia open source telah berkontribusi yang tidak sedikit demi kemanusiaan dan perkembangan teknologi informasi untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Melaui ‘kebodohan’ mereka pula, perkembangan software open source akan semakin cepat karena akan ada banyak orang yang turut berpartisipasi dalam mencari bugs yang mungkin ada untuk kemudian diperbaiki dan dioptimasi serta ditingkatkan fitur-fiturnya.

8. Linux itu berdosa
Ya, ‘berdosa’ kepada pengembang software proprietary karena tidak memberikan ‘pemasukan’ ke ‘kantong’ mereka dikarenakan software proprietary buatannya mendapatkan saingan dari software open source yang lebih murah, halal, dan legal dengan fitur yang tidak kalah (bahkan melebihi fitur-fitur yang ada pada software proprietary tersebut).

9. Linux itu menyedihkan
Sangat menyedihkan malah, bagaimana mungkin sistem operasi dengan usia yang relatif muda ini mampu berkembang pesat seperti sekarang ini, bahkan berani menghadapi sistem operasi proprietary yang telah dikembangkan jauh sebelumnya dan memiliki pangsa pasar yang tidak sedikit di seluruh dunia.

Bila dulu, banyak pihak yang meramalkan IBM OS/2 adalah sistem operasi masa depan, namun kenyataannya sekarang sungguh berbeda, OS/2 telah ‘down’ (bila tidak ingin dikatakan ‘mati’). Mari kita lihat bagaimana perkembangan Linux beserta software-software open source lainnya beberapa tahun kedepan.

Yup, diatas adalah beberapa alasan yang cukup logis untuk tidak memakai Linux. Sekarang terserah kepada kamu, masih mau memakai Linux?

Catatan:
* Tulisan diatas hanyalah sebuah pemikiran bodoh dari penulis yang hanya seorang lamer yang tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan di hati para pembaca dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.


ICT